Home / Seputar Desa / TUGU EQUATOR KOTA LIPATKAIN DAN SEJARAHNYA.

TUGU EQUATOR KOTA LIPATKAIN DAN SEJARAHNYA.

GARIS KHATULISTIWA/EQUATOR

Dalam geografi, garis khatulistiwa (dari bahasa Arab: خط الاستواء) atau Equator (dari bahasa Inggris equator) merupakan sebuah garis imajinasi yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan paralel terhadap poros rotasi planet. Garis khatulistiwa ini membagi Bumi menjadi dua bagian belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Garis lintang ekuator adalah 0°. Panjang garis khatulistiwa Bumi adalah sekitar 40.070 km.

Di khatulistiwa, matahari berada tepat di atas kepala pada tengah hari pada saat ekuinoks. Maka durasi masa siang hari sama sepanjang tahun kira-kira 12 jam.

Antara Equinox Maret dan September, latitud bagian utara Bumi menuju Matahari yang dikenal sebagai Tropik Cancer, bagian bumi paling utara di mana Matahari dapat berada tepat di atas kepala. Bagian selatan Bumi terjadi antara Equinox bulan September dan Maret dinamakan Tropik Capricorn

Pengertian Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa adalah garis imajiner atau khayal yang membagi bumi di belahan utara dan selatan. Nama lain untuk khatulistiwa adalah ekuator. Panjang khatulistiwa sekitar 40.075 kilometer atau 24.901,5 mil di benua Amerika Selatan dan Afrika, dan di sejumlah pulau dan lautan, dan di 13 negara, termasuk Ekuador, Kolombia, Brasil, Gabon, Sao Tome dan Principe, Kongo, Zaire, Uganda, Kenya, Somalia, , Maladewa, Kiribati, dan Indonesia.

Garis khatulistiwa atau ekuator merupakan sebuah garis imajinasi yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan paralel terhadap poros rotasi planet. Garis khatulistiwa membagi Bumi menjadi dua bagian yakni belahan Bumi utara dan belahan Bumi selatan.

Garis lintang khatulistiwa adalah 0 derajat, yang sementara itu panjang garis khatulistiwa Bumi ialah sekitar 40.070 km, itulah yang dimaksud dengan garis khatulistiwa. Pada khatulistiwa matahari berada tepat di atas kepala pada tengah hari dalam aquinox, yang sehingga durasi siang hari sama sepanjang tahun, yakni kira-kira 12 jam. Bagian bumi yang dilewati garis khatulistiwa kebanyakan samudera, yang dimana garis khatulistiwa akan melintas daratan atau wilayah perairan di 14 negara yang dimulai dari garis bujur 0 derajat ke timur, apabila dilihat dari permukaan Bumi.

Garis khatulistiwa dianggap sebagai satu-satunya garis dengan lingakaran yang besar. Yang dalam hal ini garis tersebut didefinisikan sebagai lingkaran yang digambat pada bidang atau poros bulat seperti Bumi dengan pusat yang mencakup pusat bola itu.

Itulah dalam hal sebabnya mengapa garis khatulistiwa dianggap memenuhi syarat sebagai sebuah lingkaran besar karena melewati pusat yang tepat dari Bumi dan mebaginya menjadi dua. Sementara itu, garis lain dari lintang utara dan selatan di khatulistiwa bukanlah merupakan sebuah lingkaran besar karena keduanya akan menyusut saat menuju kutub. Selain itu, saat panjangnya menurun, kedua garis lintang tersebut tidak semuanya bisa melewati pusat Bumi.

Tugu Khatulistiwa

Apa yang pertama kali terbayang di benak anda ketika mendengar KOTA LIPATKAIN ? Ya, jawabannya adalah MUNGKIN BELUM BANYAK YANG TAHU di Indonesia dan  seluruh penjuru dunia belum mengenal kota ini, sebab dia hanya Kota Kecil di Tengah Pulau Sumatera. Dan masyarakat juga belum banyak yang mengenal Kota Lipatkain dengan sebutan Kota Khatulistiwa. Di Kabupaten Kampar tepatnya di Kecamatan Kampar Kiri, terdapat tugu yang dibangun pada zaman Belanda, di titik dimana garis khatulistiwa melewati bumi. Tugu tersebut dinamai Equator Monument atau Tugu Khatulistiwa. Tugu ini terletak di Jalan Poros H.R Soebrantas Raya yaitu sebuah Jalan Poros Lintas Pekanbaru ke Kota Teluk Kuantan.

Untuk sampai di lokasi ini, anda hanya harus menempuh perjalan sejauh kurang lebih 3 KM dari pusat kota Kecamatan Kampar Kiri Kelurahan Lipatkain  ke arah kota Teluk Kuantan. Dengan biaya Gratis, anda bisa masuk ke dalam tugu Khatulistiwa dan belajar tentang garis khayal yang ada di dunia ini.

Peristiwa alam yang unik pun dapat anda rasakan di sekitar tugu khatulistiwa dan hanya terjadi sebanyak 2 tahun sekali, pada saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena ketika matahari berada tepat di garis khatulistiwa. Pada saat itu matahari akan tepat tegak lurus diatas kepala kita sehingga tidak terdapat bayangan. Kejadian ini hanya terjadi pada tanggal 21 – 23 setiap bulan Maret dan September.

Fungsi dan Ciri Iklim Garis Khatulistiwa

Garis khatulistiwa ini memiliki fungsi diantaranya sebagai berikut:

  1. Menjadi acuan yang digunakan untuk menentukan perbedaan zona iklim di bumi.
  2. Menjadi pembagi antara dua belahan bumi yaitu belahan bumi selatan dan belahan bumi utara.
  3. Garis khatulistiwa ini digunakan ialah sebagai patokan untuk menentukan lokasi pada suatu negara atau tempat.

Iklim tropis disekitaran garis khatulistiwa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mempunyai suhu rata-rata yang tinggi. Hal tersebut terjadi sebab matahari vertikal.umumnya suhu udara pada daerah yang mempunyai iklim tropis ini ialah 20 – 23 derajat celcius. Namun di beberapa tempat itu mempunyai suhu rata-rata 30 derajat celcius.
  2. Mempunyai amplitudo suhu rata-rata tahunan yang kecil. Di garis khatulistiwa amplitudo suhu rata-rata tahunannya itu sekitar 1 – 5 derajat celcius, sedangkan ammplitudo suhu hariannya lebih besar.
  3. Memiliki tekanan udara yang rendah yang berubah secara perlahan serta beraturan.
  4. Memiliki frekuensi hujan yang besar dibandingkan dearah-daerah lainnya (belahaan bumi utara dan belahaan bumi selatan).
  5. Di daerah sekitar khatulistiwa itu lamanya waktu siang serta malam relative sama sepanjang tahun.

Daerah Dilalui Garis Khatulistiwa

  1. Kota Bonjol
    Bonjol adalah sebuah kota kecamatan yang terletak di kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Bonjol menjadi salah satu kota yang dilewati garis khatulistiwa. Sebagai penanda bahwa kota ini berada di lintang nol derajat, dibangun Taman Wisata Equator, rumah khas minangkabau, lapangan beraspal bertuliskan ‘I crossed the equator‘, bangunan berbentuk bulat berwarna biru, dan gerbang dengan tulisan “Anda melintasi khatulistiwa”.
  2. Kota Pontianak.
    Kota Pontianak merupakan ibukota provinsi Kalimantan Barat. Sebagai penanda dilalui garis equator, dibangun tugu khatulistiwa sejak tahun 1928, meskipun menurut pengukuran BPPT, tugu dan monumen tersebut melenceng sejauh 100 meter dari titik 0 derajat.
  3. Kepulauan Batu
    Kepulauan Batu merupakan kepulauan dengan sekitar 48 pulau kecil yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera, di antara pulau Nias dan Siberut. Kepulauan ini termasuk dalam wilayah kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Garis katulistiwa melewati sebelah utara pulau Tanahmasa dan terbesar di kepulauan Batu.
  4. RIAU
    Di RIAU garis khatulistiwa membentang mulai Selat Malaka, kepulauan Riau, Kabupaten Pelalawan, dan Kabupaten Kampar. Di Provinsi Riau salah satu Daerah yang di lalui garis Khatulistiwa ini adalah Kota Lipatkain  di Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar. Semenjak tahun 2019 Pemda Kampar sedang membangun sebuah TAMAN KHATULISTIWA KOTA LIPATKAIN.
  5. Pulau Lingga
    Pulau Lingga merupakan pulau terbesar pada gugusan kepulauan Lingga. Pulau seluas 889 km2 ini terdapat di timur pulau Sumatera dan termasuk dalam wilayah provinsi Kepulauan Riau. Equator melewati ujung utara pulau kecil ini.
  6. Pulau Kalimantan
    Di Kalimantan equator melintasi provinsi kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
  7. Pulau Gebe
    Pulau Gebe terletak di timur pulau Halmahera dan termasuk dalam wilayah kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Pulau Gebe dilalui oleh equator (garis khatulistiwa).
  8. Pulau Waigeo
    Pulau Waigeo atau dikenal juga sebagai pulau Amberi atau Waigiu, merupakan pulau terbesar di Kepulauan Raja Ampat yang terletak di sebelah utara provinsi Papua Barat.
    Selain melewati kota dan pulau, di Indonesia garis khatulistiwa juga melewati daerah perairan yang meliputi selat Karimata, selat Makasar, teluk Tambu dan teluk Tomini (Sulawesi), laut Maluku, dan laut Halmahera.
    Bangga rasanya negeri ini mendapat anugerah dilalui oleh garis khatulistiwa. Lebih bangga lagi, mengetahui di mana saja, di sudut negeri ini, sang zero latitude membelah bumi menjadi dua bagian, utara dan selatan.
  9. Pulau Sulawesi
    Di pulau Sulawesi melintasi provinsi Sulawesi Tengah.
  10. Kepulauan Kayoa
    Kepulauan Kayoa merupakan kepulauan yang terletak di barat pulau Halmahera, Maluku. Kepulauan ini termasuk dalam wilayah kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Garis katulistiwa melewati kepulauan ini.
  11. Pulau Halmahera
    Pulau Halmahera merupakan pulau terbesar di kepulauan Maluku dan termasuk dalam wilayah provinsi Maluku Utara

SEJARAH PENEMUAN GARIS KHATULISTIWA DI LIPATKAIN KAMPAR

DI Shili Foshi, pada pertengahan bulan delapan dan pertengahan musim semi (bulan dua), lempeng jam (bayangan tiang) tidak berbayang. Seseorang yang berdiri di tengah hari tidak berbayang. Matahari tepat di atas kepala dua kali dalam setahun.

Itulah sekelumit informasi yang diberikan I-Tsing atau Yi Jing, biksu Tiongkok tentang letak pusat Kerajaan Sriwijaya dalam bukunya Nanhai. Yi Jing merupakan salah satu dari tiga peziarah terkenal asal Tiongkok. Pendahulunya adalah Fa Xian dan Xuan Zang.

Yi Jing juga menulis mengenai perluasan wilayah kekuasaan Sriwijaya ketika dia kembali ke Melayu pada 685 atau awal 686 M. “Kami singgah hingga musim dingin tiba, kapal berlayar ke arah selatan sekira sebulan dan tiba di Melayu, yang sekarang sudah menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya,” catat Yi Jing.

Itu pas dengan apa yang tertulis dalam Prasasti Kedukan Bukit. Pada 683, Sri Dapunta Hyang mengadakan pawai kemenangan (jayasiddhayatra) atas penaklukan Melayu.

PROSES PENANDAAN GARIS  KHATULISTIWA DI LIPATKAIN

Penandaan dan Pembangunan Tugu Khatulistiwa di Desa Lipatkain Kecamatan Kampar Kiri dimulai semenjak Zaman kolonial Belanda, penentuan garis meredian, lintang dan bujur ( Titik Nol Derajat/Equinox) yang membela permukaan bumi menjadi dua bagian, garis itu ditetapkan oleh ahli-ahli Geografi dan Astronomi dari Negeri Belanda.

Pada Tahun 1856 Masehi Controlour Belanda dari Residen Sumatera Timur di Bengkalis sudah membuat Peta wilayah Kampar Kiri yang di lalui Oleh Garis Khatulistiwa yaitu Lipatkain. Pada Tahun 1905 Pemerintah Belanda diwakili oleh Controlur J.G Larive dan Sulthan Kerajaan Rantau Kampar Kiri Di Gunung Sahilan Yaitu Sulthan Tengku Abdul Jalil Yang Dipertuan  Hitam. Kedua belah pihak Menandatangani Perjanjian Yang disebut dengan “ Plakat Pendek atau Korte Verklaring”. Perjanjian ini adalah titik awal menguasaan Kerajaan Belanda atas wilayah Rantau Kampar Kiri.

Fhoto Dokumen: Peta Pemerintah Belanda Tahun 1856 Masehi.

Peta Garis Khatulistiwa yang dibuat tahun 1856 Masehi, Oleh Negara Belanda ini nantinya menjadi acuan bagi Pemerintahan Militer Jepang pada PD II untuk membangun Jalur Kereta Api yang membela dua Pulau Sumatera dari Timur Ke Barat melalui Rute Pekanbaru- Muara Sijunjung. Dengan tujuan untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya.  Kota Lipatkain adalah Salah Satu Stasion dari jalur kereta Api Jepang itu  dengan Sebutan Camp 7 Romusha Lipatkain. Di Lipatkain tepatnya sekarang di Desa Lipatkain Selatan di tepi Sungai Kampar Kiri, Belanda mendirikan suatu penanda dari garis Khatulistiwa tersebut yakni sebuah “Batu” yang berbentuk Pipih. Masyarakat Lokal menyebutnya “ BATU VILA”.

Fhoto Dokumen : Peta Jalur Kereta Api Jepang Tahun 1943-1946.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945 aktivitas untuk kembali mengokohkan garis tengah bumi ini tetap berlanjut, tahun 1970-an pada masa Orde Baru. Tugu pertama sebagai penanda garis Equator di di Tengah Pulau Sumatera khususnya  Kampar Kiri mengambil titik di Negeri Lipatkain Tepatnya di Desa Lipatkain Selatan, tempat itu awalnya kenal masyarakat dengan sebutan Batu Villa.

Dokumen Fhoto : Batu Villa Generasi Awal  (I) In memorial.

Tugu ini dibangun oleh Pemerintah Orde Baru sekitar tahun 1970-an, sebagai penguat Tanda garis Equator yang dibangun pada masa Belanda. Dalam perjalanan sejarahnya titik penanda garis tengah Bumi di Desa Lipatkain Selatan ini mengalami beberapa kali perubahan bentuk, setidaknya sudah ada 5 x perubahan bentuk dari masa Orde baru Sampai Era Reformasi Sekarang. Berikut Dokumentasinya :

Dokumen Fhoto : Tugu Khatulistiwa Generasi Kedua (II) In memorial.

Tugu Generasi II  ini dibangun pada era tahun 1980-an Oleh Pemerintah Provinsi Riau, sebagai regenerasi Batu Vila generasi I.

Dokumen Fhoto : Tugu Khatulistiwa Generasi Tiga  (III) In memorial.

Tugu Generasi III  ini dibangun pada era tahun 1990-an Juga Oleh Pemerintah Provinsi Riau, sebagai Renovasi atas Tugu Genarasi II yang sudah mulai uzur

Dokumen Fhoto : Tugu Khatulistiwa Generasi Ke empat  (IV) In memorial.

Tugu Generasi IV  ini dibangun pada era tahun 2000-an Juga Oleh Pemerintah Provinsi Riau, sebagai Renovasi atas Tugu Genarasi III yang Juga sudah Mulai uzur.

Pada awal tahun 2019 tepatnya tanggal 10 Agustus 2019 Proses Pembangunan Tugu Khatulistiwa Generasi V beserta ” TAMAN EQUATOR KOTA LIPATKAIN ”. Sesuai dengan ekspos Pemerintah Kabupaten Kampar. Pembangunan Taman Equator yang akan menjadi salah satu MASCOT KEPARIWISATAAN DI KABUPATEN KAMPAR, ICON KEBANGGAAN MASYARAKAT SERANTAU KAMPAR KIRI Khususnya dan tentu Kebanggan bagi Bumi Khatulistiwa KOTA LIPATKAIN, Secara Administrasi Pemerintahan dan Kewilayahan terletak di Dusun Khatulistiwa Desa Lipatkain Selatan Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Dokumentasi Fhoto: TAMAN & TUGU EQUATOR KOTA LIPATKAIN

Pembangunan Taman Equator Lipatkain dalam Perencanaan Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar akan dilakukan secara bertahap, Pembangunan Taman Equator ini tercipta dengan kerjasama yang erat antara masyarakat Lipatkain dengan Pemerintah Kabupaten Kampar melalui Dinas Pariwisata Kabupaten. Pembangunan ini juga di dukung oleh keluarga Besar dari Alm. Haji Muhammad Ali, beserta seluruh Stake Holders di Kecamatan Kampar Kiri, kelurga Besar H. Muhammad Ali yang bersedia menghibahkan tanah miliknya seluas lebih kurang 1 Hektar untuk pengembangan Pembangunan Kawasan Taman Equator di Kota Lipatkain.

Demikian sekelumit Deskripsi singkat tentang Tugu Khatulistiwa atau Tugu Equator Kota Lipatkain Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Created By. Lipatkain Selatan Media Center,  11 June 2020

Check Also

PROGRAM PKK 2020

Organisasi Pemberdayaan dan  Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah salah satu Organisasi Masyarakat di Desa (OKD). Sebagai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super